Chat with us, powered by LiveChat

Toni Schumacher, Pemain Jerman Paling Kotor di Piala Dunia 1982

Toni Schumacher, Pemain Jerman Paling Kotor di Piala Dunia 1982

Sejak pertama kali digelar, Piala Dunia merupakan pertandingan sepak bola skala internasional paling bergengsi. Setiap empat tahun sekali mengadakan turnamen yang diikuti seluruh anggota Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA. Akan tetapi yang dapat mengikuti hanyalah tim nasional terbaik dan memenuhi syarat saja karena nanti akan bertanding melawan negara dengan anggota sepak bola hebat. Bahkan Indonesia sendiri hanya sempat beberapa kali saja mendapatkkan kesempatan tersebut. Sementara periode 2018 ini, negara kita masih vakum karena para pemainnya dianggap belum potensial untuk melenggang ke ajang tersebut.

Selama satu bulan penuh, Piala Dunia dalam satu periode tertentu pastilah menyisakan kisah atau tragedi bermacam-macam. Mulai dari kemenangan besar suatu timnas sampai dengan kejadian tragis dan tak terlupakan sepanjang sejarah. Misalnya saja seperti Piala Dunia tahun 1982 dimana pihak Jerman melawan Prancis. Kedua negara yang terkenal kuat dan empunyai banyak pemain handal sehingga diunggulkan oleh masyarakat dunia. pada waktu itu salah satu pemain dari Jerman bernama Toni Schumacher memang berhasil memberikan kemenangan telak hingga Prancis tak mampu mencetak satu skorpun. Namun sempat terjadi hal mengerikan bahkan dikatakan sangat brutal karena sang bintang lapangan menciderai lawannya yang bernama Battiston.

Jerman Merupakan Tim Paling Kotor di Piala Dunia

Kabar mengenai Jerman merupakan timnas paling kotor di sepanjang perhelatan Piala Dunia memang bukan dongeng lagi. Hal tersebut sepertinya sudah sangat melekat di pikiran masyarakat luas. Ditambah lagi dengan adanya penelitian mengenai daftar atau ranking negara-negara dengan total skor pelanggaran terbanyak dipegang oleh Jerman. Diungkapkan pula oleh media Mirror dimana menunjukan jika negara tersebut menerima 122 kartu kuning. Setiap kartu bewarna kuning mempunyai bobot skor 5 poin tetapi jika mendapatkan dua sekaligus maka poinya ada 7. Perhitungan menjadi banyak dikarenakan Jerman dibagi menjadi dua wilayah yaitu barat dan timur sehingga totalnya dijadikan satu. Selain itu, para pemain tim nasionalnya juga gemar sekali mengumpulkan pelanggaran, contohnya saja seperti yang dilakukan oleh Schumacher tahun 1982 silam.

Kemudian setelah Jerman, terdapat tim terkotor urutan kedua yakni Argentina karena mendapatkan pelanggaran sebanyak 630 poin. Sampai-sampai negara tersebut mendapatkan sebutan sebagai “binatang” oleh tim serta pelatih Inggris. Brazil menempati ranking ketiga dengan poin 100 dan berbagai pelanggarannya dapat dilihat sampai sekarang.

Toni Schumacher Jadi Pemain Terkotor

Kisah sang legenda, Toni Schumacher seakan-akan tidak akan pernah hilang dari peradaban Piala Dunia. Sampai saat ini masyarakat begitu jelas mengingat kejadian di lapangan hijau bersama tim nasional Prancis. Meskipun Jerman jauh lebih unggul tetapi kemenangan didapatkan bukan dari cara fair. Hal ini sudah dapat dinilai sendiri oleh para penontong di stadion ataupun penggemar sepak bola yang menonton pertandingaan naas tersebut. Kedua negara saling berhadapan satu sama lain di babak semifinal Piala Dunia 1982. Banyak orang menantikan turnamen kali itu dikarenakan ada banyak sekali nama pemain kondang. Dari Jerman terdapat Hans-Peter Briegel, Felix Magath, Paul Breitner dan Pierre Littbarski. Sementara di tim Prancis diantaranya Jean Tigana, Alain Giresse, Marius Tresor, dan Michel Platini. Dengan potensi dan kekuatan seimbang tersebut maka diprediksi kedua tim bakal bermain apik serta mengesankan, saling merebut nilai dan kemengan sebagai juara dunia.

Di awal pertandingan, Jerman sudah memimpin satu laga lebih awal ketika sedang memasuki menit ke-17. Salahs atu pemain bernama Klaus Fischer mengambil bola yang disergap oleh Jean-Luc Ettori selaku kipper Prancis. Beberapa menit kemudian pihak Prancis berhasil menyamakan kedudukannya dengan skor nilai 1-1 sama. Namun sempat terjadi sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh Jerman terhadap Dominique Rocheteau. Kemudiann lanjut pada babak kedua, Michel Hidalgo dari Prancis memberikan sebuah keputusan mengejutkan dimana meminta Patrick Battiston masuk lapangan dan mengeluarkan Bernard Genghini. Dengan begitu tim mereka mempunyai tiga bek di lapangan dengan menjadikan Manuel Amoros dan Maxime Bossis sebagai wing-back. Tujuannya adalah agar posisi pertahanan lebih kuat ketika menahan serangan bagian sayap dari pasukan Jerman.

Battiston mulai bermain di menit ke-50 dan berusaha menggapai pola yang diumpan oleh Platini. Ketika sedang berlari cepat dan menggiring bola, berharap agar memasukkannya ke gawang lawan, tetapi tiba-tiba mendapatkan serangan dadakan dari salah seorang pemain Jerman. Toni Schumacher datang ke arah Battiston dari depan dengan kecepatan tinggi dan menghantamkan tubuhnya dengan keras. Seketika pemain yang baru saja masuk ke stadion tersebut terlempar dan meringkuk kesakitan. Bahkan selama beberapa detik mengalami kolaps karena seperti mendapatkan kecelakaan tak terduga. Meski begitu, ternyata Battiston sempat mengetahui jika dirinya bakal ditabrak dengan sengaja sehingga berusaha mengurangi kecepatan berlari. Akan tetapi Schumacher malah menambah kecepatan dan menubruk pemain dengan tinggi badan 181 cm tersebut. Alhasil Battiston mengalami cidera sangat parah, tiga gigi patah, tulang rusuk remuk redam, dan bagian belakang juga rusak. Saking tragisnya kecelakaan disengaja tersebut, ia harus mengalami koma selama beberapa waktu di rumah sakit.

Menimbulkan Dampak yang Besar

Kejadian Schumacher menabrak Battiston sontak membuat keadaan lapangan menjadi hening. Para penonton, terutama penggemar tim Prancis langsung mengutuk tindakan tersebut, terutama karena wasit hanya diam saja dan terlambat meniupkan peluit tanda peringatan. Ketika dikecam banyak pihak, dirinya hanya mengatakan jika wasit Corver sama sekali tidak melihat insiden tabrakan namun fokus pada arah perginya bola ke luar lapangan. Hal ini ditambah dengan pernyataan sang asisten yang mengatakan kalai kejadian tersebut tidak disengaja sehingga wasit tidak mampu berbuat banyak.

Setelah Battiston ditandu dan dilarikan ke rumah sakit, turnamen tetap berlanjut dengan menggantinya dengan Christian Lopez. Di babak terakhir, Prancis mencetak dua goal namun sayangnya langsung dibalas oleh Jerman sehingga total akhirnya menjadi 3-3 sama. Sementara Toni Schumacher menjadi sang pahlawan negeri Hitler, bagi Prancis dirinya tak jauh dari monster pembunuh. Jerman berhasil memenangkan pertandingan dan pemainnya Schumacher sama sekali tak menunjukan penyesalan. Bahkan ia begitu sombong mengangkat tangan sebagai rasa bangga akan kemenangan kotor yang didapatkan atas cidera Battiston. Di balik lapangan, kedua negara saling bersitegang dimana pihak Prancis menyalahkan sikap Jerman yang berlebihan serta menjuluki mereka dengan sebutan SS atau Schutzstaffel (pasukan perang Hitler di Perang Dunia II). Tentu saja kejadian tersebut membawa dampak kuat bagi hubungan keduanya sehingga Presidennya Francois Mitterrand dan Kanselir Jerman, Helmut Schimdt membuat pernyataan kepada Prancis.

Nasib akhirnya adalah Battiston baru pulih setelah enam bulan menjalani perawatan namun belum sepenuhnya normal. Sementara itu Schumacher seperti mendapatkan karma dari perbuatan kotornya tersebut dimana dikucilkan para anggota sampai dikeluarkan dari timnas Jerman. Salah satu masalah yang dibuat yaitu menuduh anggota tim menggunapan doping dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Tahun 1987 sampai 1966, yang awalnya seorang pahlawan lapangan hijau bagi Jerman kini menjadi pengelana dengan bermain dari satu klub kecil ke lainnya.


Artikel Terkait Berita Bola

WhatsApp chat