Chat with us, powered by LiveChat

Lemahnya Peluang Indonesia Turut Bergabung dalam Pemilihan Tuan Rumah Piala Dunia

Sejak beberapa tahun lalu sampai sekarang, Indonesia masih ramai membicarakan soal peluang menjadi tuan rumah di Piala Dunia. Bukanlah menjadi hal tak mungkin jika negara kita bersama dengan pemerintah dan rakyatnya saling mendukung satu sama lain. Meskipun masih terkendala masalah biaya tetapi tetap ada berbagai macam cara yang bisa digunakan, salah satunya bekerjasama dengan negara ASEAN lain. Bahkan para pejabat tinggi dalam pemerintahan sendiri mengaku jika Indonesia belum sanggup menjadi tuan rumah tunggal, mengingat modal utama yang dikeluarkan sangatlah besar.

Kita dapat belajar dari Piala Dunia 2018 saat ini dimana Rusia telah mengeluarkan dana sampai 11,8 milyar ollar Amerika atau bisa lebih. Alokasi dana tersebut paling banyak dihabiskan di bidang pembangunan negara, terutama tiap kota yang menjadi tempat terselenggaranya acara, mulai dari membangun infrastruktur, stadion internasional, sarana transportasi, bandara, hotel berbintang, dan fasilitas umum lainnya. Belum lagi Vladimir Putin meminta pemerintahan memudahkan wisatawan dan para supporter Piala Dunia dalam masalah pemenuhan visa serta mengratiskan perjalanan antar kota tujuan turnamen.

Benarkah Indonesia Mempunyai Peluang Besar?

Jika dilihat sekilas memang Indonesia seakan belum siap baik secara materi maupun mental untuk menjadi tuan rumah ajang bergengsi Piala Dunia. Butuh waktu teramat panjang untuk memperbaiki kondisi negara sekaligus membangun berbagai macam sektor terlebih dahulu. Pasalnya nanti akan ada banyak sekali wisatawan internasional baik untuk jalan-jalan maupun sekaligus menonton pertandingan. Jika belum terdapat fasilitas memadai maka bisa membuat kecewa masyarakat seluruh dunia bukan?

Sebenarnya Indonesia memang sudah berencana sejak lama untuk mendaftarkan diri menjadi calon kandidat tuan rumah. Karena tak mampu menjadi penyelenggara tunggal maka datanglah bantuan dari Thailand yang ingin bergabung. Dengan begitu Indonesia bersama Thailand akan bersama-sama menghelat turnamen Piala Dunia pada tahun 2034 mendatang. Sementara masih ada waktu sekitar 16 lagi supaya kedua negara saling melakukan pembenahan di berbagai sektor pemerintahan. Hal ini juga mendapatklan dukungan dari berbagai pihak seperti asosiasi AFF dan dewan perwakilan FIFA karena Piala Dunia belum pernah diadakan di kawasan Asia Tenggara. Oleh sebab itulah hal ini bakal menjadi momen seru dan menarik bagi para negara peserta karena akan bertanding di beberapa negara beriklim tropis yaitu Indonesia dan Thailand.

Disamping itu masih banyak pula hal-hal yang patut dipertimbangkan, salah satunya mengenai kelemahan dari Indonesia. Tentu FIFA akan mengambil keputusan matang dan tak ingin mngadakan turnamen World Cup di negara-negara tanpa prestasi sepak bola. Bahkan Rusia saja sempat dipandang sebelah mata karena belum pernah memenangkan Piala Dunia dan seringkali kalah di babak pertama. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Berikut ini adalah beberapa kelemahan yang membuat negara kita harus memikirkan ulang maju ke kandidat tuan rumah:

  1. Alasan pertama tentu saja karena uang modal karena Piala Dunia memakan budget teramat besar untuk negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan rakyat dan kebutuhan bangsa sangatlah banyak jika uang publik harus diinvestasikan kepada turnamen bergengsi semacam itu. Kemarin saja Rusia menghabiskan dana belasan milyar dollar yang sertara dengan ratusan triliun rupiah. Kemudian Brazil juga beberapa milyar dan Afrika Selatan ratusan juta dollar itupun masih kurang dan jumlahnya harus ditambahkan lagi karena mengikuti permintaan sponsor serta FIFA. Belum lagi adanya pajak yang diberikan kepada asosiasi FIFA sebagai bentuk keterlibatan sebagai kandidat tuan rumah Piala Dunia.
  2. Tim nasional Indonesia belum layak jika berhadapan dengan negara kuat seperti Jerman, Brazil, Argentina, Inggris, Portugal, Spanyol dan lain sebagainya. Para pemain harus mendapatkan pelatihan terbaik dan dukungan fasilitas memadai agar dapat mengembangkan potensi. Kemudian juga memperbanyak prestasi di bidang olahraga sepak bola standar internasional. Hal ini disebabkan memegang posisi tuan rumah Piala Dunia menjadi beban mental tersendiri karena jika tak mampu mengimbangi maka bisa menuai kritikan dari masyarakat dunia. Padahal salah satu tujuan menyelenggarakan turnamen tersebut adalah menaikkan popularitas dan bisnis negara. Jika dunia saja banyak menghujat, bagaimana mau mendapatkan keuntungan dan mengembalikan modal awal?
  3. Indonesia kekurangan pelatih profesional dan bersertifikat sehingga membuat perkembangan pemain tim nasionalnya juga sangat lamban. Saat ini hanya ada sekitar 3000 pelatih bersertifikat sementara Jepang saja 60.000 orang tetapi masih belum bisa dianggap setara dengan tim negara kuat Eropa atau Amerika. Salah satu pelatih, Indra Sjafri juga mengungkapkan jika Indonesia gudangnya pemain potensial dan handal tetapi sayangnya sebagian besar dari mereka tak ingin menjadi hebat.

Timnas Indonesia Berlaga di Piala Dunia

Sebelumnya telah dikabarkan apabila Indonesia akan bergabung dengan Thailand untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Keuntungan menjadi tuan rumah salah satunya adalah mendapatkan tiket emas masuk ke babak final secara otomatis. Tentu saja hal tersebut akan memberikan kesempatan besar bagi Indonesia untuk dikenal dan dipertimbangkan dunia. Meski begitu, ada baiknya jika timnas tidak terlalu mengandalkan tiket gratisan melainkan berusaha sendiri. Seperti yang telah diketahui jika sebagian besar para pemainnya masih kurang potensial dan kekurangan pelatih terbaik maka membuat Indonesia lemah jika harus melawan negara-negara kuat dalam pertandingan Piala Dunia. Akan tetapi beberapa taktik untuk mengembangkan kemampuan mereka, salah satunya dengan keluar dari kawasan Oseania dan bergabung dengan daerah lain. Kawasan ini terdiri dari negara-negara dengan kepulauan kecil dimana tim sepak bolanya bisa dikatakan jauh tertinggal, misalnya saja seperti Fiji dan Haiti. Namun Oseania seringkali didapuk untuk mewakili ajang internasional seperti Olimpiade Sepak Bola tahun 2016 silam. Karena begitu banyak kelemahan dan kekurangannya maka bisa merugikan pihak Indonesia. Fiji dan Haiti adalah tim negara paling kuat di Oseania namun kelimpungan ketika melawan Indonesia bahkan pernah kalah telak dari Australia dengan skor 31-0. Jika harus terus bergabung di kawasan tersebut, kemungkinan besar negara kita tak mampu melenggang manis di turnamen Piala Dunia dan layak menghadapi negara lainnya. Dimbah lagi kurang ketatnya kompetisi di kawasan tersebut sehingga membuat timnas kita kurang mendapat apresiasi dan prestasi di kancah internasional. Apabila hal tersebut sampai terjadi maka secara otomatis kesempatan menjadi tuan rumah di tahun 2034 mendatang hanya angan-angan belaka saja.

Kalau Indonesia sangat berambisi menggelar Piala Dunia 2034 nanti bersama Thailand maka sejak sekarang pemerintah harus mulai bergerak. Tak hanya memikirkan pembangunan dan perbaikan dalam negeri saja namun menjalin hubungan baik sekaligus mencari dukungan kuat dari berbagai pihak. Pasalnya saingan menuju ke proses pemilihan kandidat sangatlah ketat dimana harus bersaing dengan negara-negara Eropa atau bahkan Amerika yang punya pengaruh kuat di mata dunia. Bermodalkan dukungan positif dari perwakilan FIFA saja tidaklah cukup karena ada banyak hal harus dipikirkan.


Artikel Terkait Berita Bola

WhatsApp chat